SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Masjid Lautze ini didirikan pada 9 April 1991, dan diresmikan pada 4 Februari 1994 oleh Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yaitu B.J. Habibie kala itu. Masjid ini awalnya didirikan pada tahun 1991 dalam sebuah ruko. Pendirian masjid ini diawali dengan usaha dakwah di kalangan etnis Tionghoa di Jakarta. Pada tahun 1994, masjid ini diperluas menjadi dua ruko.

Pengaruh muslim pada etnik Tionghoa memang sudah bukan hal baru. Ajaran Islam yang telah dibawa turun temurun hingga kini masih diwariskan secara baik oleh penerus-penerusnya. Masjid Lautze adalah sarana warga pecinan di Jakarta jika ingin memperdalam serta memeluk agama Islam dan juga tempat untuk menggali khasanah Keislaman bersama muslim Tionghoa yang berjalan berdampingan dengan agama mayoritasnya.

Keberadaan Masjid Lautze menunjukkan kalau agama tak memandang ras, ataupun asal usul seseorang. Setiap manusia, dari manapun asalnya, berhak memeluk keyakinan apapun yang diinginkannya.

DAYA TARIK MASJID

Masjid Lautze ini kental dengan langgam arsitektur China. Hal tersebut terlihat dari warna cat yang mentereng, yaitu kombinasi hijau, kuning dan merah. Lalu, lampion yang menggantung di teras depan dan pintu masuk berlanggam gaya Tionghoa dengan bentuk oval di bagian atasnya.

Bangunan masjid ini berwarnakan merah dan kuning dengan bentuk yang menerupai sebuah klenteng. Masjid ini tidak memiliki kubah ataupun menara. Bangunan di mana masjid ini berada terdiri atas empat lantai. Lantai pertama dan kedua adalah untuk masjid, lantai ketiga adalah untuk kantor sekretariat yayasan dan lantai keempat adalah untuk ruang aula pertemuan.

Interior masjid memang sangat kental menampilkan budaya sang pendiri. Karpet berwarna hijau tua tampak serasi bersanding dengan tembok kuning dan aksen merah.

Tempat imam berkotbah pun tampak hampir menyerupai altar pemujaan di klenteng. Bahkan, kaligrafinya juga lebih ke aliran Tionghoa dengan tinta hitam di atas kertas putih. Bila lalai, pengunjung bisa salah menangkapnya sebagai hanzi - huruf Tionghoa. Masjid ini mampu menampung 200 jama’ah.

Masjid Lautze ini kental dengan langgam arsitektur China. Hal tersebut terlihat dari warna cat yang mentereng, yaitu kombinasi hijau, kuning dan merah. Lalu, lampion yang menggantung di teras depan dan pintu masuk berlanggam gaya Tionghoa dengan bentuk oval di bagian atasnya.

Bangunan masjid ini berwarnakan merah dan kuning dengan bentuk yang menerupai sebuah klenteng. Masjid ini tidak memiliki kubah ataupun menara. Bangunan di mana masjid ini berada terdiri atas empat lantai. Lantai pertama dan kedua adalah untuk masjid, lantai ketiga adalah untuk kantor sekretariat yayasan dan lantai keempat adalah untuk ruang aula pertemuan.

Interior masjid memang sangat kental menampilkan budaya sang pendiri. Karpet berwarna hijau tua tampak serasi bersanding dengan tembok kuning dan aksen merah.

Tempat imam berkotbah pun tampak hampir menyerupai altar pemujaan di klenteng. Bahkan, kaligrafinya juga lebih ke aliran Tionghoa dengan tinta hitam di atas kertas putih. Bila lalai, pengunjung bisa salah menangkapnya sebagai hanzi - huruf Tionghoa. Masjid ini mampu menampung 200 jama’ah.

Masjid ini ternyata bukan hanya untuk ibadah, yayasan pengelola Masjid Lautze menyediakan layanan kesehatan di lantai dua. Pengobatan yang buka setiap Selasa dan sudah berlangsung beberapa tahun itu terbuka untuk masyarakat golongan ekonomi tak mampu.

Masjid Lautze juga mempunyai keunikan tersendiri. Selain warna merah yang mendominasi interior dan exteriornya, adalah jam oprasional masjid layaknya durasi kerja kantoran. Masjid dibuka pukul 09.00 dan tutup pukul 17.00 WIB, jadi jika Anda ingin salat di Masjid Lautze hendaknya datang pada waktu Dzuhur dan Ashar. Selain itu masjid ini ramai di datangi muslim Tionghoa paa hari Minggu.

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Masjid Jami’ al Makmur yang terdapat di Pusat Grosir Tanah Abang, letaknya di Jalan KH. Mas Mansyur No.6, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Persis di pinggir sisi kiri jalanan menurun Under Pass dari arah selatan. Menurut riwayat, Masjid Al Makmur Tanah Abang dibangun untuk menggantikan langgar sederhana berukuran 12×8 meter yang dibangun pada 1704 M oleh para keturunan bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro.

Posted in Jakarta Pusat, Masjid, Masjid Unik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *