SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Masjid Jami Kampung Baru ini dibangun oleh Syeikh Abubakar yang merupakan salah satu saudagar muslim dari India yang tinggal di kawasan tersebut. Waktu itu masyarakat Pekojan dan sekitarnya, mayoritas penduduknya adalah warga keturunan Moor.
Dalam sebuah karangan Belanda pada tahun 1829 masjid ini disebut juga sebagai Moorsche Tempel (Kuilnya orang-orang Moor). Kemungkinan dari sanalah asal muasal sejarah yang menyebut masjid ini dibangun oleh Muslim Moor, yangk kemudian Istilah Moor diidentikan dengan Muslim India. Meskipun terminologi Moor sesungguhnya merupakan nama kelompok etnis Muslim di Afrika Utara (Maroko dan sekitarnya), yang pada masanya berhasil menaklukkan Eropa dan mendirikan eEmperium Islam di Andalusia (Spanyol).
Luas bangunan masjid sekitar 400 Meter persegi yang akhirnya diperluas menjadi 1.060 Meter persegi. Denah dasar Masjid Kampung Baru ini berbentuk persegi, atapnya bertumpuk, tumpang satu dengan atap corak limasan pada bagian atasnya. Sedangkan limas bawah seperti terpancung, sehingga digolongkan tipe masjid Jawa gaya pendopo. Di dalam masjid terdapat ukiran buah anggur yang indah. Masjid ini dulunya memiliki mimbar paling indah, terbuat dari kayu ukir. Mimbar itu sudah diganti. Mimbar aslinya kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta.

DAYA TARIK MASJID

Arsitektur masjid ini memperlihatkan perpaduan yang harmonis di antara unsur-unsur budaya Bali, Belanda, Jawa, dan Tionghoa. Bentuk dasar bangunan yang bujur sangkar serta atap limasan yang bersusun dua memperlihatkan pengaruh Jawa. Ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas, mengacu pada gaya punggel rumah Bali. Sementara kusen-kusen pintu, daun pintu ganda, lubang angin di atas pintu, dan anak-anak tangga di depan menampilkan unsur Belanda. Jendela-jendela kayu, dengan terali kayu bulat torak yang dibubut, dan juga tiang-tiang utama, pun mengesankan pengaruh Jawa. Tetapi ada pula yang menganggap bahwa ujung atap yang melengkung itu lebih mirip atap rumah Cina, sedangkan tiang dan jendelanya terpengaruh Belanda.
Masjid ini juga mencerminkan keragaman etnis yang ada di Indonesia atau dulu disebut Nusantara sehingga, semua ini menjadi sebuah cerita sejarah maupun arsitektur yang sangat Bhinneka sekali. Dianggap sebagai sebuah representasi kebhinekaan etnik yang ada di Indonesia
Saat ini tahun 2019 Masjid tersebutpun mengalami renovasi. Mengingat nilai sejarahnya, Masjid Angke ini oleh Pemerintah DKI kini ditetapkan sebagai cagar budaya.
Di sekitar masjid ini dimakamkan orang-orang keturunan Arab, Bali, Banten, Pontianak, dan Tartar. Ada dua kelompok makam, yakni di belakang masjid, dan di depan, di seberang gang. Selain makam Ny. Chen, di halaman belakang masjid ada pula makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Angke; makam Syarifah Maryam; serta makam Syekh Jaffar yang konon adalah anak Pangeran Tubagus Angke. Sementara itu di seberang jalan di depan masjid terletak makam Pangeran Syarif Hamid Alkadrie, keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie --pendiri Kesultanan Pontianak. Di belakangnya terdapat makam Ibu Ratu Pembayun Fatimah, anak dari Sultan Maulana Hasanuddin --penguasa Kesultanan Banten. Konon katanya disini juga terdapat Makam Tubagus Angke.

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Masjid Jami’ Tambora merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di wilayah DKI Jakarta, tepatnya berada di Jl. Tambora IV No.12 A, Rt08/03, Kel. Tambora, Kec. Tambora, Kota Administrasi Jakarta Barat.

Posted in Jakarta Barat, Masjid, Masjid Bersejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *