SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau seorang muslim kaya berdarah Tionghoa yang hidup pada masa itu. Pada awal dibangun, masjid ini hanya berupa Surau atau Musholla yang kecil, karena memang pada saat itu masih digunakan oleh beberapa orang saja.
Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.
Masjid ini mengalami beberapa pemugaran. Pemugaran pertama pasca kemerdekaan Indonesia yang tercatat terjadi pada tahun 1950. Saat itu, Masjid Kebon Jeruk diperluas semua sisi. Mihrab yang berada di sisi barat dibongkar dan dimajukan hingga ke batas pagar Jalan Hayam Wuruk. Masjid Jami Kebon Jeruk direnovasi kembali pada tahun 1957. Tujuan renovasi ini adalah untuk memperlebar masjid sehingga bisa menampung lebih banyak jamaah. Di tahun 1974, masjid ini mendapat bantuan dari Gubernur Ali Sadikin. Bantuan tersebut untuk memperbaiki seluruh bagian masjid yang rusak dan menetapkan Masjid Jami Kebon Jeruk sebagai peninggalan sejarah bangsa yang perlu dijaga dan dijaga kelestariannya.[6] Penetapan Masjid Kebon Jeruk sebagai bangunan bersejarah didasarkan pada SK Gubernur DKI No. GB.II/72 tanggal 10 Januari 1972. Pada tahun 1983 - 1986 dilakukan pemugaran kembali oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.
Di halaman belakang masjid (sekarang berada di dalam masjid karena adanya perluasan masjid) terdapat makam dari tahun 1792. Pada nisannya terlihat tulisan dengan huruf Tionghoa, dan tanggal dalam huruf Arab. Posisi nisan berada tepat disisi utara makam, sementara makamnya sendiri posisinya memanjang utara-selatan. Jelaslah, menilik posisi makam dan nisannya, ini adalah makam seorang Muslim. Nisannya dipenuhi dengan hiasan berbentuk kepala naga dan ornamen-ornamen Tionghoa lainnya. Inilah makam Nyonya Cai (Nyonya Tshoa), istri pendiri masjid. Aksara “Cai” dalam dialek Hokkien diucapkan “Tschoa”.
Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara.

DAYA TARIK MASJID

Bentuk Masjid Jami Kebon Jeruk pada umumnya sama dengan bentuk masjid tua lainnya di Jakarta. Masjid tersebut memiliki ciri umum yang mirip yakni memiliki denah segi empat dengan atap tajuk bertingkat dua. Hal yang membedakan Masjid Jami’ Kebon Jeruk dengan masjid tua lainnya adalah keberadaan tiang peyangga masjid yang berjumlah 10 buah dan tersebar di tiga sisi masjid.
Masjid Jami Kebon Jeruk hanya memilki satu pintu utama yang terletak di sisi selatan. Hal ini dikarenakan sisi utara dan sisi timur berbatasan dengan tembok bangunan perkantoran dan rumah penduduk. Sisi kanan dan kiri dari pintu masjid membentuk lengkungan setengah lingkaran. Ruangan utama masjid memiliki ukuran 10 x 10 meter dengan lantai keramik.
Secara keseluruhan menurut Ashadi, bentuk bangunan Masjid Jami’ Kebon Jeruk terdiri atas bentuk arsitektur Timur Tengah, Tionghoa, Kolonial Belanda, dan bentuk arsitektur tradisional Jawa, dan Betawi. Bentuk arsitektur Timur Tengah direpresentasikan oleh bentuk lengkungan pada teras, ruang utama lama, dan lubang angin di bawah bentuk atap kerucut segi delapan. Bentuk arsitektur Tionghoa direpresentasikan oleh bentuk hiasan di atas pintu kayu di ruang utama lama sisi selatan dan utara. Bentuk arsitektur Kolonial Belanda direpresentasikan oleh bentuk dinding segi delapan di bagian atas ruang utama baru dengan konstruksi atapnya yang berbentuk kerucut segi delapan, dan pilar-pilar besar yang menyatu pada dinding di ruang utama lama. Bentuk arsitektur tradisional Jawa direpresentasikan oleh bentuk atap tajuk tumpang dua yang menaungi ruang utama lama beserta konstruksi plafon papannya, dan bentuk hiasan sulur-suluran yang keluar dari jambangan di atas pintu di ruang utama lama sisi timur. Bentuk arsitektur tradisional Betawi direpresentasikan oleh bentuk balustrade di atas ruang utama lama, di bawah atap tajuk tumpang kedua yang berupa jalusi kayu. Balustrade ini merupakan bagian bangunan lama.

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Masjid Jami’ Tambora merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di wilayah DKI Jakarta, tepatnya berada di Jl. Tambora IV No.12 A, Rt08/03, Kel. Tambora, Kec. Tambora, Kota Administrasi Jakarta Barat.

Posted in Jakarta Barat, Masjid, Masjid Bersejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *