SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Pekojan merupakan salah satu tempat bersejarah di Jakarta. Nama Pekojan menurut Van den Berg berasal dari kata koja atau khoja, istilah yang pada masa itu digunakan untuk menyebut penduduk keturunan India yang beragama Islam. Kampung ini kemudian juga dikenal sebagai kampung Arab, karena Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-18 pernah mewajibkan para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) untuk tinggal lebih dulu di sini. Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus sendiri berasal dari Hadramaut.

Masjid ini berdiri di atas lahan yang diyakini diwakafkan oleh Syarifah Fatimah (Baba Kecil), keturunan Nabi Muhammad yang berasal dari Hadramaut. Syarifah Baba Kecil kini dimakamkan di bagian depan masjid.

Masjid Pekojan juga merupakan salah satu masjid tempat mengajar Habib Utsman bin Yahya, pengarang sekitar 50 buku (kitab kuning) berbahasa Melayu Arab gundul. Ia pernah diangkat sebagai mufti Betawi pada 1862 (1279 H) dan saat ini makam beliau terdapat di Pondok bambu dekat Masjid Abidin. Salah seorang muridnya adalah Habib Ali Alhabsyi (W 1968) yang mendirikan Majelis Taklim Kwitang.

Di sekitar masjid ini pun masih terdapat makam-makam tua yang diperkirakan makam dari para ulama besar pada masanya. Dengan adanya makam itu, Masjid Jami Pekojan ini seringkali diziarahi banyak orang. Dilihat dari batu nisan yang terdapat di sekitar masjid ini, jelas terlihat bahwa makam-makam itu adalah makam dari para pejuang atau para ulama yang berpengaruh pada masanya. Sangat disayangkan, tanda- tanda berupa tulisan dan ukir-ukiran pada nisan makam-makam tersebut sudah mulai licin, sehingga tidak terbaca lagi, terhapus oleh erosi alamiah.

DAYA TARIK MASJID

An-Nawier berarti cahaya. Dengan harapan Masjid ini menjadi cahaya bagi umat Islam di tanah air. Gaya bangunannya perpaduan antara gaya Timur Tengah, China, Eropa, dan Jawa terutama neo-klasik. Agaknya masjid ini tidak dibangun sekaligus jadi, melainkan bertahap. Masjid An-Nawier memang telah mengalami beberapa kali pemugaran dan pemeliharaan, termasuk renovasi pada tahun 1850 yang paling mengubah fisik masjid.

Masjid yang kini dapat menampung sekitar 2.000 jamaah ini memiliki 33 buah tiang di dalamnya. Mimbarnya terbuat dari kayu yang berukir indah, berwarna coklat tua dengan beberapa bagian keemasan. Mimbar ini konon merupakan hadiah dari salah satu sultan Pontianak pada abad ke-18 dan sampai saat ini masih terpelihara. Menara masjid berbentuk unik, bulat torak serupa mercusuar dan uniknya juga menara ini berdiri kokoh di dalam area Masjid bukan terpisah dari masjidnya.

Orang yang mendirikan Menara adalah Said Utsman dan orang yang memperbaikiarah kiblat adalah Habib Utsman bin Yahyah dan KH. Namawi. Karena masjid ini bangunannya terlebih dahulu dibangun setelah itu baru penentuan kiblat.

Bangunan Masjid Pekojan memiliki filosofi yang khas berkaitan dengan ajaran agama Islam, salah satunya yakni jumlah pintu dan pilar yang ada di dalamnya. Masjid Pekojan memiliki pilar berjumlah 33 yang melambangkan bacaan zikir (tasbih, takbir, dan tahmid) yang dilafalkan sebanyak 33 kali selepas shalat.

Pintu utama Masjid Pekojan yang berada di sebelah selatan berjumlah 4 buah. Pintu ini melambangkan empat sahabat utama Rasulullah SAW, yakni Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu, pintu sebelah timur yang berjumlah 5 buah melambangkan rukun Islam dan pintu sebelah utara yang juga berjumlah 5 buah melambangkan lima waktu salat.

Selain pintu dan pilar, jumlah jendela Masjid Pekojan juga memiliki filosofi sendiri. Jendela yang berada di bagian barat berjumlah 6 buah yang melambangkan rukun iman. JumlH tiang teras luar dari Timur ke Barat berjumlah 17 buah melambangkan jumlah raka’at dalam shalat lima waktu

Masjid Pekojan juga memiliki sumur yang dulunya berfungsi sebagai tempat wudhu. Sumur tersebut sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat umum. Meski begitu, sumur tersebut masih dirawat dengan baik oleh pengurus masjid. Salah satu tempat wudu yang dibangun di sebelah utara juga masih menggunakan air yang bersumber dari sumur.

Puncak kunjungan jamaah di masjid ini adalah pada bulan Ramadhan karena banyak aktivitas seperti shalat wajib berjamaah, pengajian bersama, tadarusan, buka puasa bersama, hingga sahlat tarawih berjamaah. Selain itu dai hari-hari biasa pun masjid ini terbilang sering dikunjungi jama’ah terlebih lagi oleh sejahrawan atau mahasiswa yang meneliti tentang masjid ini.

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Masjid Jami’ An Nawier merupakan salah satu Masjid tua yang ada di Jakarta biasa disebut Masjid Pekojan. Masjid yang terletak di Jl. Pekojan no 79, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, ini dibangun pada tahun 1760 oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus.

Posted in Jakarta Barat, Masjid, Masjid Bersejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *