SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Masjid ini dibangun oleh Raden Saleh Pada tahun 1860 M, beliau merupakan salah seorang tokoh besar pada masa itu dan juga dinobatkan sebagai “Bapak Pelukis Indonesia”, membangun sebuah suaru / musholla disamping rumahnya, pada saat beliau masih dalam tahanan rumah belanda.

Lalu, setelah Raden Saleh meninggal dunia, tanah tempat berdirinya masjid ini kemudian dimiliki oleh Sayed Abdullah bin Alwi Alatas. Tanah tersebut kemudian dijual kepada Emma Stching atau Yayasan Ratu Emma dengan harga 100 ribu gulden. Namun, karena yayasan tersebut akan membangun fasilitas umum seperti rumah sakit, maka harga diturunkan menjadi 50 ribu guden saja, namun dengan syarat surau / musholla yang telah ada sebelumnya tidak boleh dibongkar. Perjanjian kesepakatan tersebut ternyata diingkari oleh pemerintah belanda. Masjid yang dibangun oleh Raden Saleh pada tahun 1860 kemudian digusur ke tepi kali ciliwung.lalu pada tahun 1890, masjid itu dipindahkan ke area milik Sayid Ismali Salam bin Alwi Alatas. masjid tersebut di atas dipindahkan dengan cara memanggulnya secara bergotong royong beberapa meter saja ke arah timur ke tempat sekarang, yakni ke tepi Sungai Ciliwung.

Sayid Ismail bin Sayid Abdullah bin Alwi Al Atas menjual sebagian tanah milik istri Raden Saleh kepada Koningin Emma Stichting untuk membangun dan mengurus Rumah Sakit Cikini. Pada tahun 1906, Pengadilan memenangkan Sayid Ismail sebagai pemilik tanah yang sah. Maka, pada tahun 1923, ia menjual tempat masjid itu berdiri kepada Rumah Sakit Cikini. Pada tahun 1924, pihak Rumah Sakit Cikini ingin supaya masjid yang masih berdiri di atas tanah yang dibelinya itu dipindahkan lebih jauh lagi. Tetapi, jama’ah maupun beberapa tokoh umat Islam di Batavia menentang rencana itu, karena tanah ini dianggap wakaf dari Raden Saleh untuk membangun masjid.

Lalu, suatu panitia yang didukung antara lain oleh H. Agus Salim, membangun masjid sekarang yang kokoh itu. Pada tahun 1932-1934, terjadi perombakan dan penambahan gedung dengan dukungan Serikat Islam. Masalah tanah baru selesai pada tahun 1991, waktu pihak Rumah Sakit Cikini menyerahkan tanahnya kepada Pengurus Masjid Al Ma’mur. Dua tahun kemudian (1993) dilakukan pemugaran dan perluasan lagi, termasuk pembangunan masjid baru, kemudian pembuatan Lorong (koridor) antara bangunan lama dan bangunan baru.

Berdasarkan keterangan batu prasasti yang terdapat di teras masjid, disebutkan bahwa telah selesai dibangun Masjid Jami’ Cikini Al Ma’mur Th. 1351 H. bertepatan Th. 1932 M. Dibangun masyarakat Cikini Binatu yang dipelopori oleh bapak H. Agus Salim (alm). Tempat berkumpulnya para tokoh nasional pada saat itu dan para Alim Ulama setempat.

DAYA TARIK MASJID

Masjid Cikini memiliki dua unsur bagunan utamanya yaitu satu bangunan masjid asli sebagai inti bangunan utama. Dan pada bagian kedua terdapat “Duplikasi” dari masjid lama, yang diletakkan di sebelah Masjid Jami’ Cikini Al-Ma’mur. Meskipun usianya sudah lumayan tua, namun hingga kini masih difungsikan dengan bak.

Secara keseluruhan menurut Ashadi, bentuk bangunan Masjid Al Ma’mur Cikini terdiri atas bentuk arsitektur Kolonial Belanda, Timur Tengah, Tionghoa, Modern, dan tradisional Jawa. Bentuk arsitektur Kolonial Belanda direpresentasikan oleh konstruksidinding tebal dan susunan batu kali, pilar penyangga loteng pada bangunan lama, dan bentuk lubang angina pada menara. Bentuk arsitektur Timur Tengah direpresentasikan oleh bentuk-bentuk lengkung setengah lingkaran baik pada pintu dan jendela maupun lubang-lubang pada dinding pelingkup baik pada bangunan lama maupun baru, bentuk bulat menara dan atap kubah bawangnya. Bentuk arsitektur tradisional Tionghoa direpresentasikan oleh bentuk jurai atap bangunan lama yang melengkung (bentuk lengkungannya sangat tipis sehingga terlihat seolah lurus). Bentuk arsitektur Modern direpresentasikan oleh pelapis granito tyle pada dinding bangunan baru, system struktur bentang lebar pada struktur atap limasan tumpang dua bangunan baru. Bentuk arsitektur tradisional Jawa direpresentasikan oleh bentuk atap limasan tumpang dua.

GALERI MASJID

Posted in Jakarta Pusat, Masjid, Masjid Bersejarah, Masjid Populer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *