SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Perkembangan Islam di Batavia ditradisikan juga oleh orang-orang dari Mataram ini. Salah seorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram yang tercecer dari perang itu, adalah KH. Muhammad Asyuro. Muhammad Asyuro kemudian memilih wilayah Tanah Abang sebagai tempat mukimnya yang baru. di pemukiman baru tersebut sisa pasukan Mataram ini dibawah pimpinan KH. Muhammad Asyura mendirikan sebuah musholla berukuran 12×8 meter di tahun 1704 M. Keberadaan langgar/musholla ini terus berlanjut sampai ke keturunan KH. Muhammad Asyuro berikutnya. Kedua anak KH. Muhammad Asyuro, KH. Abdul Murod Asyuro dan KH. Abdul Somad Asyuro tercatat menjadi penerus dakwah ayah mereka hingga masuk ke abad 20. Pada tanggal 30 Agustus 1735 M (31 tahun setelah berdirinya Langgar KH. Muhammad Asyuro) Yustinus Vinck seorang tuan tanah Belanda mulai mendirikan pasar di Tanah Abang yang hanya buka setiap hari Sabtu, karenanya kemudian disebut Pasar Sabtu, dan saat itu mampu menyaingi pasar Senen yang sudah lebih maju. Pembangunan pasar itu memicu percepatan perkembangan kawasan Tanah Abang.

Semakin berkembangnya perkampungan dan bertambahnya jumlah penduduk sekitar langgar, maka atas inisiatif tokoh masyarakat Tanah Abang keturunan Arab, Habib Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi, tahun 1915 langgar diubah menjadi masjid besar 44m x 28m, diatas tanah wakaf dari Habib Abu bakar dengan rancangan dari seorang arsitek Belanda. Masjid yang dibangun di atas tanah wakaf seluas 1.142 m2, ini kemudian diberi nama Al-Makmur. Habib Abu Bakar Alhabsyi adalah salah seorang pendiri rumah yatim piatu Daarul Aitam di jalan yang sama. Sebagian besar biaya pembangunan masjid ini yaitu f 35.000 bahkan ditanggung sendiri oleh Habib Abu Bakar. Dalam badan pengurus Yayasan Misigit Djemat Tanah Abang Al-Mansoer (1914) selalu terdapat empat anggota keturunan Arab dan tiga orang muslim lain. Tahun 1932 masjid ini diperluas hingga ke arah utara seluas 508 m2. Perluasan di atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib itu kemudian ditambah lagi dengan sebidang tanah milik masjid di bagian belakang seluas 525 m2 di tahun 1953. Jadi luas total masjid ini sebesar 2.175 m2. Ketika masih ada kuburan wakaf (kini jadi rumah susun Tanah Abang), warga keturunan Arab yang meninggal dunia sebelum dimakamkan terlebih dulu jenazahnya dishalatkan di Masjid Al-Makmur. Para pedagang dan pembeli di Pasar Tanah Abang juga menjadikan masjid tua ini sebagai tempat shalat mereka terutama shalat dzuhur dan ashar.

DAYA TARIK MASJID

bangunan masjid ini menyerupai arsitektur masjid di Timur Tengah, namun dengan sentuhan yang cukup modern. Bangunan kubah utamanya berwarna hijau dan terlihat dari segala arah. Kesan klasik juga sangat terasa jika berada didalam masjid itu. Bentuk kusen pintu dan jendela bergaya arsitektur abad 17, menambah kesan mendalam jika masjid tersebut mempunyai nilai historis yang tinggi. Dua menara pendek mengapit tiga pintu masuk, yang atap bangunannya berbentuk kubah. Gaya bangunannya menyerupai masjid Timur Tengah. Bangunannya berkubah utama wama hijau menyolok, terlihat dari segala arah. Kubah, elemen bangunan yang umum dijumpai pada masjid-masjid Indonesia di Masjid Al Makmur memiliki bentuk yang unik. Yang menarik adalah ketiga pintu masuk masjid, pada bagian atas tiap-tiap pintu terdapat bentuk tiga lengkungan yang menyerupai kelopak daun. Ruang di sebelah barat ketiga pintu ini adalah serambi masjid. Bentuk tiga lengkungan ini terulang pada pintu masuk ke dalam Ruang Utama Shalat. Dari serambi harus melewati lubang-lubang yang bagian atasnya membentuk tiga lengkungan ini.

Bagian bawahnya berbentuk segi empat yang mengecil di bagian atas menyerupai topi bishop atau kupola. Sedangkan puncak kedua menara yang mengapit kubah utama berbentuk bawang seperti lazimnya kubah-kubah. Peletakan kubah dan sepasang menara tersebut menyerupai bentuk arsitektur masjid di Asia Barat di mana pintu masuk utamanya (iwan) diapit oleh dua menara tinggi. Bangunan masjid Al Makmur menerima penghargaan Sertifikat-Sadar Pemugaran 1996. Masjid ini dapat menampung hingga 5.200 jamaah.

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Masjid Jami’ al Makmur yang terdapat di Pusat Grosir Tanah Abang, letaknya di Jalan KH. Mas Mansyur No.6, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Persis di pinggir sisi kiri jalanan menurun Under Pass dari arah selatan. Menurut riwayat, Masjid Al Makmur Tanah Abang dibangun untuk menggantikan langgar sederhana berukuran 12×8 meter yang dibangun pada 1704 M oleh para keturunan bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro.

Posted in Jakarta Pusat, Masjid, Masjid Bersejarah, Masjid Populer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *