SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Kawasan Gelora Bung Karna (GBK) saat ini tidak hanya terkenal dengan lapangan sepak bolanya. Namun terdapat sebuah Masjid yang memiliki pesona ala Turki yaitu Masjid al Bina. Di mulai dari  dominasi arsitektur khas Timur Tengah yang menjadi satu daya tarik tersendiri. Hal itu menjadi sebab banyaknya orang menjadikan masjid ini tempat favorit untuk melangsungkan pernikahan. Letak masjid ini di kompleks olahraga Gelora Bung Karno (GBK), tepatnya di Jl. Pintu Satu, berseberangan dengan Hotel Atlet Century dan Pusat Perbelanjaan FX Senayan.

Masjid al Bina ini merupakan masjid milik negara yang dibangun tahun 1998 dan menghabiskan biasa sekitar Rp. 7 M. Pada tahun 2001 masjid ini mengalami kerusakan yaitu kubah masjid sempat mengalami kebocoran, kemudian diperbaiki. Renovasi terakhir secara total pada tahun 2013. Luas ruang peribadatan masjid ini sekitar 1.800 meter persegi yang mampu menampung 4.000 jama’ah. Luas keselurahan masjid ini sekitar 5.000 meter persegi yang merupakan taman masjid yang dipenuhi oleh pepohonan.

DAYA TARIK MASJID

Sepintas terlihat, bangunan ini tampak seperti Masjid Sultan Ahmed yang begitu terkenal di Istanbul, Turki. Ciri kesamaan paling menonjol adalah bentuk kubah masjid yang begitu cantik berhias warna biru dengan beberapa ornamen bentuk kotak. Dari bentuknya, masjid ini dikelilingi empat menara di tiap sudutnya. Berdekatan dengan kubah, sebuah menara tinggi menjulang, penanda itu merupakan menara utama. Masuk ke dalam, 18 pilar dengan kokoh berdiri menopang bangunan dua lantai itu. Lantai atas khusus untuk salat dengan kapasitas 4.000 jamaah, sementara lantai bawah difungsikan sebagai aula atau ruang pertemuan yang bisa menampun 1.500 orang. Adanya asimilasi bentuk dengan bangunan masjid tradisional Masjid Demak tersaji juga di Masjid Al Bina ini. Untuk menopang kubah, terdapat empat tiang utama penyangga atau dinamakan sebagai tiang saka guru. Di sejumlah masjid modern, model tiang semacam ini sudah cukup jarang ditemukan. Di Masjid Demak, tiang sakaguru itu merujuk pada empat wali songo, yakni Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.  Lantas, proses akulturasi gaya arsitektur juga terlihat pada bagian penghias kepala tiang-tiang pilar masjid. Pada bagian kepala dihiasi pola daun dengan ujungnya yang menjuntai menjauhi tiang. Walau menyerupai gaya Corynthia namun hiasan flora yang ada di kepala pilar bangunan ini tidaklah terlalu rumit.

GALERI MASJID

Posted in Jakarta Pusat, Masjid, Masjid Unik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *