SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Ketika pada tahun 1619, Jayakarta jatuh ke tangan Belanda. Pangeran Jayakarta Wijayakrama bersembunyi di area hutan Jati di sebelah selatan (di wilayah Jatinegara Kaum sekarang) dan menyusun kekuatan untuk menghadapi Belanda. Di tempat ini, Pangeran Jayakarta Wijayakrama mendirikan sebuah masjid. Dan masjid yang semula tak bernama itu kemudian dikenal sebagai masjid Pangeran Jayakarta atau Masjid Jatinegara Kaum. Sekarang masjid ini diberi nama Masjid Jami’ As Salafiyyah Jatinegara Kaum.

Waktu itu, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga tempat menyusun strategi bagi Pangeran Jayakarta dan pasukannya untuk menghimpun para jawara dan ulama untuk meneruskan perjuangannya melawan Pemerintah Belanda dan untuk menyiarkan agama Islam di tanah Sunda Kelapa. Pada awalnya Masjid ini berukuran kecil sekitar 4 m x 4 m, dengan konsep saka guru yaitu atap berbentuk tajuk dengan 4 tiang sebagai penopangnya dan sampai saat ini bangunan awalnya masih terjaga dan terawat.

Masjid Jami’ As salafiyah telah mengalami renovasi berkali-kali. Renovasi pertama kali dilakukan oleh Pangeran Sageri pada tahu 1700 M. Pangeran Sageri adalah putra Sultan Fatah (Sultan Banten). Anak dan bapak ini hijrah, kemudian bergabung dengan Pangeran Jayakarta, karena mereka berselisih dengan saudaranya, Sultan Haji yang diangkat menjadi Penguasa Banten oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pemugaran masjid yang kedua dilaksanakan pada tahun 1842 oleh Aria Tubagus Kosim. Pemugaran ketiga tahun 1969 oleh Gubernur DKI H. Ali Sadikin. Masjid dibangun dua lantai dengan membuat menara baru. Pemugaran keempat pada tahun 1992 oleh Gubernur DKI H. Suryadi Soedirdja, melalu Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.

DAYA TARIK MASJID

Secara keseluruhan, tampilan Masjid Jami’ As Salafiyah Jatinegara Kaum didominasi bangunan lantai dua yang posisinya persis di pinggir Jalan Jatinegara Kaum. Bangunan ini bergaya modern dengan gerbang masuk berbentuk lengkung pada bagian atasnya. Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh temboknya. Ukuran gerbang yang tinggi menunjukkan kesan wibawa bangunan. Kesan bangunan ini tidak menunjukkan sebuah bangunanmasjid; ia lebih memperlihatkan kesan bangunan formal lainnya,seperti perkantoran atau pendidikan. Brgitu pun interior ruangdalamnya.

Saat ini, Masjid Jami’ As Salfiyyah Jatinegara Kaum sudah ditambahkan lagi bangunan baru di sisi selatannya yang menghadap ke jalan raya Jatinegara Kaum, berupa bangunan beton belantai dua yang terhubung ke bangunan berlantai dua sebelumnya. Pembangunan gedung baru ini juga disertai dengan pembangunan tempat wudhu yang lebih baik disi kiri (timur) bangunan baru. Gedung baru yang dibangun dibekas lahan parkir ini membuat Masjid Jami’ As-Salafiyyah kehilangan lahan parkirnya. Pengunjung yang datang kesana dan membawa kendaraan mau tidak mau harus parkir di sisi jalan raya. Ada tiga tangga akses ke lantai dua masjid. Dua di bagian dalam sisi timur bangunan berlantai dua yang lama dan satu tangga di bangunan baru. Dihalaman samping masjid merupakan area permakaman umum kecuali 5 makam yang khusus dibuatkan pendapo diantaranya makam Pangeran Jayakarta, makam putrannya, makam cucunya, dan makam cicitnya

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Posted in Jakarta Timur, Masjid, Masjid Bersejarah, Masjid Populer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *