SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan memang cukup unik. Awalnya Habib Abdurrahman yang merupakan seorang saudagar bertemu dengan Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, di Empang, Kabupaten Bogor pada tahun 1874. Kemudian pada kesempatan berbincang tersebut, Habib Abdullah berpesan kepada Sayid Abdul Rachman mencari dan menelusuri 2 makam tua yang berada di sekitar Kampung Bandan. Jika ketemu, Habib Abdullah berpesan agar Sayid Abdul Rachman membangun suatu tempat ibadah dan memelihara wilayah tersebut dengan baik.

Pembangunan masjid ini dibangun pada tahun 1879, dan baru berupa sebuah musholla kecil, ditempatkan didekat 2 makam Ulama besar penyebar agama islam pada abad ke-16 yaitu Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (wafat pada 23 Muharram 1118 H) dan Habib Ali bin Abdurrahman Ba’Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122 H). Pertama kali dibangun oleh Sayid Abdul Rachman bin Alwi As-Syafitri (Beliaupun dimakamkan disebelah 2 makam ulama tersebut), dan kemudian pada tahun 1908 di renovasi oleh putra beliau Sayid Alwi bin Abdul Rachman bin Alwi As-Syafitri menjadi sebuah bangunan masjid.

Masjid dan makam ini sendiri sudah menjadi cagar budaya Pemprov DKI Jakarta sejak tahun 1972, bangunannya termasuk bangunan sejarah karena disini ada sejarah perjuangan islam sejak abad ke-16 oleh 2 orang wali yang diteruskan oleh pejuang-pejuang lainnya sampai sekarang. Kalau bangunannya sendiri dari Pemprov DKI Jakarta sudah ada tiga kali renovasi. Pertama, untuk meninggikan lantai sedangkan material masih tetap. Kedua, menaikkan lantai dana tap. Dan ketiga, pada tahun 2000-2001 renovasi material bangunannya. Setelah itu, baru dikembangkan lagi bangunan masjid disebelahnya (pelebaran).

DAYA TARIK MASJID

Secara keseluruhan, bentuk bangunan Masjid Jami’ Al Mukarromah terdiri atas bentuk arsitektur Timur Tengah, tradisional Jawad an Betawi. Bentuk arsitektur Timur Tengah direpresentasikan oleh bentuk lengkungan pada ruang utama bangunan lama, oleh bentuk atap kubah, bentuk pintu dan jendela pada dinding sisi utara dan selatan ruang utama bangunan baru, bentuk dan hiasan mihrab masjid, dan bentuk lengkungan setengah lingkaran di seram luar masjid bangunan baru. Bentuk arsitektur tradisional Jawa direpresentasikan oleh atap bangunan lama yang berbentuk limasan tumpang tiga. Bentuk arsitektur tradisional Betawi direpresentasikan oleh bentuk jendela pada bangunan lama.

Setiap malam jumat ba’da maghrib diisi dengan dzikir, pembacaan ratib, surah yasin dipimpin oleh Habib atau Ustadz pengurus Masjid Al-Mukarromah dibuka untuk umum. Dan malam senin ba’da maghrib diisi dengan ta’lim yaitu pembahasan kitab fiqh dipimpin oleh Habib Muhammad bin Hasan bin Thahir (Petamburan).

Acara Maulid Nabi Muhammad SAW : Pada akhir bulan maulid ba’da zhuhur, setelah sholat zhuhur berjamaah.

Berziarah sampai Iktikaf,  diperbolehkan dengan batas waktu maksimal selama tiga hari tiga malam dengan memberikan identitas, kalaupun minta tambahan waktu untuk iktikaf boleh asalkan waktunya benar-benar digunakan untuk beribadah.

Hal unik di Masjid ini yaitu terdapatnya Pohon Kurma dan Sumur Tua

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Posted in Masjid Bersejarah, Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *