SEJARAH PEMBANGUNAN MASJID

Mengenai sejarah Masjid al Alam Tak ada yang mengetahui pasti sejarah berdirinya Masjid Al-Alam di Marunda, karena cerita itu hanya dituturkan dari mulut ke mulut dan tak terdokumentasi dalam bentuk tulisan. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, antaranya Si Pitung. Kedatangan para peziarah dari berbagai daerah, tidak lepas dari keistimewaan sejarah Masjid Al Alam yang konon dibangun oleh Walisongo. Menurut kisah, masjid ini dibangun Walisongo saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa. Karena itu, nama asli masjid ini Al-Auliya atau masjid yang dibangun wali Allah.

Konon awal mula adanya Masjid Al Alam adalah saat pasukan Mataram yang dipimpin oleh Adipati Bahurekso menyerang tentara VOC yang menguasai Batavia pada waktu itu. Selain Adipati Bahurekso, menurut beberapa kisah Pangeran Fatahillah yang mendirikan Masjid Al Alam. Selain itu juga, Masjid yang berdiri dengan empat pilar besar dan kokoh di dalam ini, terkenal dengan sebutan Masjid Gaib, karena proses pembuatannya pun menurut cerita orang dulu, relatif cepat. Hari ini belum ada dan esoknya masjid itu sudah berdiri

Terlepas dari siapa yang mendirikan, pada akhirnya masjid ini , temyata mampu menjadi rahmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada masyarakat sekitar Kampung Marunda Pulau ini.

Sejak tahun 70-an, masjid ini sudah menjadi masjid bersubsidi yang dibiayai oleh Pemerintah (Pemda) Jakarta. Segala kebutuhan untuk menjaga agar masjid ini tetap berdiri di tempatnya, telah menjadi tanggungan Pemda, karena masjid ini diangggap sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang bernilai tinggi. Dengan demikian, kehidupan masyarakat sekitar masjid pun menjadi lebih diperhatikan.

DAYA TARIK MASJID

Masjid yang di dalamnya terdapat empat pilar besar berwarna putih, sebuah makam kuno seorang kiai yang meninggal hampir dua ratus tahun lalu, serta beberapa makam penduduk sekitar yang letaknya di samping masjid ini dijaga keaslian bangunannya. Karena memang itulah yang menjadi daya tarik utama dari sebagian besar pengunjung yang datang ke masjid ini.

Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini  ukurannya 10 × 10 m per segi. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang empat pilar bulat seperti kaki bidak catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi dua meter dari lantai dalam.

Kemudian, di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid. Ini mengingatkan pada arsitektur Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid.  Beberapa bagian masjid lainnya masih asli. Antaranya adalah tembok di ruang utama masjid dan hiasan jendela yang terdapat di ruang pengimaman. Bagian dalamnya terbuat dari batu giok.

Tongkat di tempat mimbar yang terukir melingkar seperti ular juga dianggap cukup istimewa dan hanya dikeluarkan setiap hari Jum at untuk kutbah. Tongkat ini kono datang dengan sendirinya.

Saat ini, masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarahi, terutama setiap malam Jumat kliwon dengan kegiatan rutin berupa istighosah. Begitu juga sumur tua yang usianya ratusan tahun tersebut berada disamping masjid sampai saat ini air masih tetap mengalir dan tidak kering meski musim kemarau. Dengan ramainya para peziarah, masyarakat bisa mengambil keuntungan dengan menjual makanan di sekitar Masjid Al Alam. Saat Ramadan, akan lebih banyak lagi pengunjung yang datang.

GALERI MASJID

LOKASI MASJID

Posted in Jakarta Utara, Masjid, Masjid Bersejarah, Masjid Populer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *